Tasikmalaya, sebuah kota di Jawa Barat, selama beberapa dekade dikenal sebagai sentra kerajinan tangan, mulai dari bordir hingga batik. Salah satu nama besar yang kini menjadi simbol industri batik di Tasikmalaya adalah H. Dede Sunarya, pendiri Batik Sunarya. Kisah suksesnya bukan hanya tentang perjalanan bisnis, tapi juga bagaimana warisan budaya batik dipertahankan dan dikembangkan di tengah tantangan zaman modern.
H. Dede Sunarya lahir dan besar di Tasikmalaya, daerah yang memiliki tradisi panjang dalam pembuatan kain batik dan bordir. Sejak remaja, ia sudah terjun ke dunia kerajinan. Ketertarikannya pada batik dimulai dari pengamatan, ketika ia melihat para pengrajin lokal membuat motif-motif indah dengan penuh ketekunan. Ia belajar secara otodidak, mengamati teknik pewarnaan, pembuatan pola, dan proses produksi lainnya.
Tahun 1980-an menjadi titik perubahan, ketika Dede Sunarya memberanikan diri membuka usaha batik dengan modal yang terbatas. Ia memulai bisnis dari rumah, melibatkan anggota keluarga. Produk pertamanya adalah kain batik tulis dengan motif khas Tasikmalaya, seperti motif Sawo, Jumputan, dan Kawung. Dengan keuletan dan inovasi, ia berhasil memenuhi standar kualitas sehingga batiknya dikenal luas.
Batik Sunarya didirikan pada awal tahun 1990-an. Dede Sunarya tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mengedepankan pelestarian budaya lokal dengan memberdayakan para perempuan dan pemuda Tasikmalaya sebagai pengrajin batik. Usahanya berkembang dari usaha keluarga menjadi sebuah industri kecil menengah (IKM) yang mampu menghasilkan ribuan lembar batik setiap tahun.
Salah satu inovasi Dede Sunarya adalah menciptakan motif-motif batik baru yang memadukan corak tradisional dengan sentuhan modern. Ini membuat Batik Sunarya tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tapi juga menarik perhatian konsumen luar daerah dan mancanegara. Keputusan untuk menampilkan batik Tasik di berbagai pameran nasional dan internasional membawa Batik Sunarya dikenal luas.
Ketekunan dan kejujuran menjadi fondasi utama dalam menjalankan usaha Batik Sunarya. Dede Sunarya selalu memastikan kualitas bahan baku, pewarnaan, serta ketelitian dalam setiap produk. Ia tidak segan turun langsung ke workshop untuk memantau proses produksi dan mendengar keluhan serta masukan dari para pengrajin.
Perjalanan bisnis Batik Sunarya tidak selalu mulus. Pernah menghadapi masa sulit ketika terjadi krisis ekonomi dan persaingan dengan produk batik dari luar daerah. Namun, Dede Sunarya tetap optimis dan melakukan sejumlah perubahan strategis:
Melalui pengalaman ini, Dede Sunarya belajar bahwa adaptasi sangat penting dalam bisnis. Selain itu, ia meyakini bahwa pelestarian budaya batik tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas daerah dan Indonesia di mata dunia.
Kesuksesan Batik Sunarya membawa dampak besar bagi masyarakat Tasikmalaya. Banyak perempuan yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan kini bisa membantu ekonomi keluarga lewat kegiatan membatik. Usaha ini juga menumbuhkan rasa bangga terhadap batik Tasikmalaya di kalangan generasi muda, yang semakin ingin belajar dan melestarikan batik.
Batik Sunarya sering mengadakan workshop batik untuk anak-anak sekolah, komunitas seni, dan wisatawan. Selain mempertahankan motif-motif klasik, Batik Sunarya juga membuka ruang kreatif bagi pengrajin untuk berinovasi dalam desain produk sesuai kebutuhan pasar.
Berkat kerja keras Dede Sunarya dan tim, Batik Sunarya memperoleh berbagai penghargaan di tingkat daerah dan nasional. Batik Sunarya pernah menjadi peserta utama dalam Festival Batik Nasional di Jakarta, juga menjadi wakil Jawa Barat dalam pameran UKM di luar negeri. Produk-produk Batik Sunarya kerap dijadikan cenderamata atau busana resmi oleh pejabat daerah dan tamu-tamu penting.
Tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, Batik Sunarya menjadi identitas budaya Tasikmalaya. Banyak wisatawan yang datang ke workshop Batik Sunarya untuk melihat proses pembuatan batik dan membeli produk secara langsung. Hal ini turut menggerakkan sektor pariwisata dan perekonomian lokal.
Kisah H. Dede Sunarya mengajarkan bahwa keberhasilan memerlukan tekad, kerja keras, dan niat untuk membangun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ia membuktikan bahwa dengan menjaga kualitas, memperhatikan kearifan lokal, serta inovasi, industri batik dapat bertahan dan berkembang di era persaingan global.
Di tengah tantangan zaman, H. Dede Sunarya tetap konsisten pada prinsipnya: melestarikan budaya batik Tasikmalaya sebagai warisan leluhur sekaligus memperbesar dampak sosial dan ekonomi di lingkungannya. Semangat ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Tasikmalaya dan Indonesia untuk terus memajukan kreasi lokal, serta membawa nama baik Indonesia di tingkat internasional.
Kisah sukses H. Dede Sunarya dan Batik Sunarya menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kontribusi terhadap pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi kreatif. Dengan dedikasi, Batik Sunarya terus menjadi salah satu ikon batik Jawa Barat, mengharumkan nama Tasikmalaya dan membawa batik Indonesia ke panggung dunia.